Memilih tema makro, Hasrun mengajak kita memasuki dunia semak. Lewat karya-karyanya, ia membantu melihat hewan-hewan kecil lebih detail. Bentuk tubuh mereka, saat kawin, bermain, hinggap di semak-semak, makan, serta sayap yang bening.
Foto mata ini mencuri perhatian pengunjung. Mereka mencoba menebak-nebak obyek hewannya. Kalau melihat dari motifnya, itu mirip mata ular.
Mata adalah salah satu bagian tubuh hewan yang memiliki kedalaman makna. »Saya sangat tertarik membidik mata hewan-hewan kecil ini, tak ada yang sama,” ujar Hasrun di sela-sela pameran di Auditorium Al-Amien di Universitas Muhammadiyah Makassar, Senin, 10 November 2014.
Awalnya, ia menduga foto makro itu membosankan dan tidak mengasyikkan. »Setelah memasuki dunia semak, saya menemukan keasyikan tersendiri,” kata Hasrun. Apalagi, melalui teknik foto makro, ia mampu memperjelas obyek pengamatan. Jadi, mampu menampilkan hasil yang belum tentu bisa dilihat dan diamati secara detail dengan mata telanjang.
Pameran fotografi bertajuk »Three Light Starkers” ini berlangsung hingga Selasa. Ada sekitar 80 foto karya tiga fotografer yang bisa dinikmati, masing-masing Hasrun yang mengajak kita menikmati indahnya dunia kecil, Iskandar mencoba mengangkat tema budaya leluhur di Tana Toraja, serta Habibi yang coba menghubungkan keterkaitan dua budaya.
Habibi membingkai prosesi upacara Maudu Lompoa di Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Dia berhasil menghadirkan komposisi-komposisi menarik serta detail-detail prosesi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Habibi juga mencoba menyandingkan dua tradisi berbeda. Satunya lagi, kebiasaan adat di Kampung Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Ia menunjukkan nuansa Islami dalam masyarakat yang menggunakan bahasa Cia-cia dan menggunakan aksara Korea ini.
Sedangkan Iskandar membawa kita melihat budaya leluhur aluk todolo—kepercayaan Toraja—yang masih dijalankan masyarakat Tana Toraja hingga sekarang. Yakni rambu solo—prosesi upacara kematian—dan ma’nene (menjenguk nenek atau ziarah makam).
Habibi dan Iskandar mencoba menceritakan prosesi budaya. Tapi mereka gagal menghadirkan foto-foto yang bercerita secara tuntas tentang serangkaian prosesi budaya ini. Foto-fotonya cenderung monoton dan beberapa angle fotonya mirip.
Mereka sepertinya cenderung terbuai oleh suasana dan seperti tidak melakukan riset terlebih dulu. Ini terlihat dari hal-hal inti dari prosesi Maudu Lompoa yang terlewatkan dari bidikan kamera Habibi. Belum lagi penyusunan foto-foto serta tak adanya judul foto cukup menyulitkan pengunjung, tentunya. Tapi secara teknik pengambilan dan komposisi, karya-karya mereka patut diacungi jempol.
Akan halnya Hasrun, untuk menghasilkan foto-foto mikro, dia butuh menabung banyak kesabaran dalam membidik lensanya.
»Fokus itu butuh perut yang kenyang,” kata Yusuf Ahmad, fotografer Reuters, salah satu kurator pameran. Artinya, seorang fotografer butuh persiapan sebelum turun ke lapangan. Habibi dan Iskandar, kata Yusuf, mencoba menghadirkan foto-foto dengan konsep bercerita, tapi ini bukan foto jurnalistik.
Kurator lainnya, Muhammad Faisal, menilai Habibi, melalui karyanya, berhasil mewujudkan kematangan jati diri menemukan identitasnya dengan berani menghadirkan warna-warna. Lalu, Iskandar melalui karyanya mencoba menampilkan tradisi Toraja dari berbagai aspek. Menurut Faisal, Iskandar masih perlu melakukan pendekatan kultural agar bidikan lensanya mampu menangkap makna dari setiap struktur simbol yang dihadirkan.
Ketua Program Studi Seni Rupa Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Baetal Mukaddas, mengatakan beberapa karya yang dipamerkan ini akan dijadikan koleksi universitas tersebut sebagai bagian dari karya seni rupa.
This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

0 comments:
Post a Comment