Indonesia Jadi Tujuan Utama Paedofil Australia

VIVAnews - Indonesia kini harus waspada karena menjadi salah satu tujuan utama bagi para paedofil Australia untuk mencari mangsa. Data yang dikutip harian Australia, Sydney Morning Herald awal pekan ini menyebut 18 persen pelaku tindak kejahatan seksual masuk ke Indonesia secara resmi. Artinya, sebanyak 25 orang masuk ke Tanah Air setiap bulannya. Mereka kebanyakan mulai mencari mangsa dari Pulau Bali, namun kemudian bergerak ke provinsi lainnya di Indonesia. Indonesia berhasil mengalahkan Thailand, Malaysia dan Filipina yang juga marak dijadikan tujuan wisata bagi para paedofil tersebut. Fenomena ini juga dicium oleh Polisi Federal Australia (AFP). Mereka sedang mencurigai seorang pria yang diberi nama Malcolm. Dia dicurigai, lantaran kerap mengirimkan uang secara rutin melalui jasa Western Union ke teman-temannya di Indonesia. Nilai uang yang dikirim beragam mulai dari AUD$30 (Rp317 ribu), AUD$40 (Rp424 ribu), hingga AUD$50 (Rp530 ribu). Menurut Komandan Regional AFP, Chris Sheehan, jejak Malcolm telah diikuti sejak tahun 2013 lalu. Bahkan tiga bulan terakhir ini, kata  Sheehan, Malcolm kian sering berkunjung ke Indonesia. Sekali berkunjung, bisa menghabiskan waktu antara empat hingga enam minggu. Sheehan mencurigai kunjungan dan uang yang Malcolm kirim ditujukan kepada korban-korbannya. Uang itu, kata  Sheehan, sengaja dikirim, sebagai imbalan, karena anak-anak yang menjadi korbannya bersedia memuaskan nafsunya melalui kamera web. "Kami mengetahui dari penyelidikan dengan kepolisian Indonesia, bahwa dia memiliki hubungan dengan orang-orang yang ada di Indonesia dan diketahui dekat dengan anak-anak dan anggota keluarga," ungkap Sheehan yang ditemui SMH di ruang kerjanya di Jakarta.Sheehan mencurigai Malcolm telah mengatur pembayaran dan menyukai anak-anak. Jadi, dia datang ke Indonesia untuk menemui korbannya itu. Jika, dugaan Sheehan benar, maka Malcolm merupakan bagian dari kelompok besar paedofil Australia yang tengah mencari mangsa di desa-desa miskin di Indonesia. Kebanyakan anak-anak itu menjadi korban, karena tertarik dengan imbalan uang dalam jumlah besar. Tengok kesaksian Lina dan adiknya Lisa. Keduanya berasal dari sebuah desa yang miskin di Karangasem, Bali. Setiap hari, mereka rela menempuh perjalanan jauh menuju Kuta untuk menjual gelang tangan terbuat dari anyaman. Lina yang baru berusia 12 tahun mengaku memiliki seorang teman bule. "Bule itu telah berjanji kepada saya, setelah nanti saya lulus SD, dia akan memberi saya pekerjaan," ujar Lina bangga.Dia berkisah bertemu kali pertama dengan si bule beberapa tahun lalu dan kemudian bersedia membiayai sekolahnya. Namun di mata seorang guru di Sekolah Harapan Bali, Anggie Cahyani, tidak ada yang tahu apakah tawaran semacam itu diberikan secara cuma-cuma atau sebagai imbalan tertentu. Anggie menilai, tidak sedikit kebaikan yang justru memiliki motif tertentu di baliknya. Sebagai contoh, di tahun 1997 silam, seorang guru bule asal Australia, Peter Dundas Wallbran, ternyata bersikap baik kepada seorang anak berusia 8 tahun di Lombok untuk kepentingan tertentu. Dia membantu bocah laki-laki itu untuk sekolah dan membelikan baju. Keluarga si bocah pun merasa terharu atas kebaikan Wallbran selama tujuh tahun itu. Namun, siapa sangka di balik kebaikan tersebut, Wallbran secara diam-diam memperkosa si bocah.Menurut Natalia Perry dari Yayasan Safe Childhoods, ada dua jenis turis pemangsa bocah. Pertama, tipe "produktif" yang sengaja berkumpul di forum-forum paedofil dan mengaku sejak awal tengah mencari korban. Kedua, "situasional", hanya mencoba-coba dengan korban yang masih berusia belia.Menurut Perry, kedua jenis paedofil ini berasal dari Australia dan negara barat lainnya. Hal yang paling meresahkan, mereka menjejakkan kaki ke Bali dan polisi belum bertindak apa pun. "Dibandingkan negara lain seperti Kamboja, Filipina dan Thailand, hanya Indonesia yang belum begitu ketat," ungkap Perry. Bahkan, lanjut dia, bagi otoritas lokal sulit untuk mengakui adanya permasalahan semacam itu di Bali. "Mereka merasa harus mempertahankan citra bahwa Bali adalah Pulau Surga. Isu ini sangat sensitif buat mereka. Jika Anda berani mengatakan sesuatu yang jahat di masa lalu, maka Anda dapat membangkitkan roh-roh jahat saat ini," kata dia. Sementara orang-orang seperti Malcolm dicurigai masuk kategori "produktif" dan memang sengaja mencari mangsa. Polisi di Indonesia pun, lanjut Perry, sulit bertindak jika tidak ada pihak keluarga yang mengadu anaknya telah menjadi korban.Bahkan, ada opini yang berkembang, termasuk di kalangan polisi, jika seseorang, bahkan si anak, telah ditawari uang dan menerimanya untuk melakukan seks, maka dianggap tidak ada tindak kejahatan apa pun yang dilakukan. Namun, AFP menegaskan, bukan berarti para paedofil ini dibiarkan. Sheehan menyebut, setiap kali ada paedofil asal Australia yang terbang ke satu tempat, maka negara tujuannya akan diberi peringatan. "Mereka kini, menanti respons nasional dan tidak duduk diam begitu saja dengan membiarkan hal ini menjadi sebuah kasus besar," ujar Sheehan. Bahkan, jika orang seperti Malcolm terbukti berbuat tindak kejahatan di Indonesia, maka terbuka lebar kesempatan untuk dibui di Tanah Air. Sebagai contoh, usai beberapa kali memperkosa bocah di Lombok, Wallbrand ditangkap di Negeri Kanguru dan diekstradisi ke Indonesia untuk dibui. Itulah alasan, AFP, ujar Sheehan, memiliki pos besar di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya untuk melawan tindak kejahatan paedofil. "Saran saya untuk para pelaku yang berniat melalukan kejahatan itu, maka sebaiknya Anda berhati-hati jika igin ke kawasan ini seperti Indonesia dan Filipina, karena kemungkinan besar, Anda akan ditangkap dan diadili," kata Sheehan memperingatkan.  

© VIVA.co.id


View the original article here

Penulis : Rin Kun ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Indonesia Jadi Tujuan Utama Paedofil Australia ini dipublish oleh Rin Kun pada hari Sunday, October 19, 2014. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Indonesia Jadi Tujuan Utama Paedofil Australia
 

0 comments:

Post a Comment