VIVAnews - Pemerintah Meksiko dan Belize, di daerah Karibia, menolak memberikan izin bagi kapal pesiar mewah, Carnival Magic, pada Jumat, 17 Oktober 2014. Alasannya, karena salah satu penumpang merupakan petugas laboratorium yang bekerja di Rumah Sakit Texas Health Presbyterian, Dallas, Amerika Serikat. Harian Telegraph edisi Sabtu, 18 Oktober 2014 melansir, di rumah sakit itu pasien Ebola asal Liberia, Thomas Eric Duncan, dirawat, lalu meninggal pada 8 Oktober. Kemudian, beberapa hari kemudian, ditemukan fakta, dua suster yang pernah merawat Duncan, Amber Vinson dan Nina Pham, juga tertular virus itu. Petugas laboratorium itu bertindak sebagai pengawas dan tidak melakukan kontak langsung dengan Duncan. Merasa berisiko rendah untuk menularkan Ebola, wanita itu lalu mengambil cuti dan mengikuti program perjalanan dengan kapal pesiar menuju Kepulauan Karibia pada 12 Oktober lalu.Namun, di saat Pusat Pengendalian dan Perlindungan (CDC) meminta kepada siapa pun yang telah melakukan kontak dengan virus itu pada 15 Oktober lalu untuk memonitor dirinya sendiri dan melapor, wanita itu dan suaminya langsung mengisolasi diri di dalam kamar. Kendati begitu, dia mengatakan sangat sehat dan tidak memiliki gejala Ebola hingga memasuki hari ke-20 dia melakukan kontak dengan sampel virus tersebut. Sementara itu, pasien dinyatakan bebas Ebola, setelah tidak menunjukkan gejala apa pun setelah 21 hari proses inkubasi. Namun, aksi isolasi diri itu justru membuat kru kapal waspada. Mereka meminta agar petugas medis itu segera dibawa kembali ke AS dari Belize."Kami terus melakukan kontak secara intense dengan CDC dan telah diputuskan cara yang paling baik dengan mengisolasi tamu di dalam kamar," ujar perwakilan kapal pesiar Carnival dalam sebuah pernyataan. Wanita itu, ujar mereka, terus dipantau oleh dokter di kapal pesiar.Kendati coba diyakinkan, namun Pemerintah Belize tetap kukuh menolak para penumpang menjejakkan kaki di negaranya. Namun, kapal pesiar itu tetap diizinkan untuk berlabuh. Saat berlayar, kapal tengah mengangkut 4.600 tamu dan kru."Para penumpang tidak pernah menjejakkan kaki di Belize. Walaupun hanya ada sedikit keraguan, namun kami akan memastikan kesehatan dan keselamatan warga Belize," ungkap pemerintah.
Kapal pesiar lalu melanjutkan perjalanan ke Meksiko. Namun, penolakan serupa juga dialami mereka. Otoritas di Pelabuhan Cozumel baru memberi izin kepada penumpang untuk turun setelah wanita itu dipindahkan kembali ke AS. Alhasil, karena belum ada keputusan dari Pemerintah Meksiko hingga Jumat siang, kapten kapal memilih untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Texas. Perwakilan dari Carnival akhirnya meminta maaf kepada seluruh penumpang. "Kami benar-benar meminta maaf atas situasi ini, yang di luar kendali kami. Batalnya kunjungan ke Cozumel jelas membuat tamu kami kecewa," ujar perwakilan Carnival Line. Mereka juga menjelaskan kapal pesiarnya tidak memiliki rute menuju ke negara sumber Ebola seperti Sierra Leone, Liberia dan Guinea. Bahkan, sebelum penumpang diizinkan naik ke atas kapal, mereka harus menjawab pertanyaan mengenai kesehatan. Jika terbukti ada yang sakit dan menunjukkan tanda-tanda Ebola, mereka dilarang naik ke kapal. Carnival Line juga menawarkan kompensasi senilai US$200 atau Rp6 juta dan 50 persen diskon untuk perjalanan lainnya. (one)
© VIVA.co.id
View the original article here
No comments:
Post a Comment